Wisata

Mesjid Besar Roma

8


 

Mendengar kata “Kota Roma” biasanya banyak orang terbayang akan Colosseum, Vatikan, Gereja, Agama, Umat Katolik atau masyarakat Kristen. Tidak banyak yang tahu bahwa di kota Roma ada sebuah mesjid besar yang disebut Grand Mosque of Rome atau Mesjid Besar Roma, yang kabarnya merupakan mesjid terbesar di Eropa (Barat).

Lokasi mesjid ini ada di bagian utara kota Roma, di ujung daerah Monti Parioli, Villa Ada Park. Meliputi area sebesar 30.000 M², lahan masjid ini diperkirakan mampu menampung sampai 12.000 orang, sedangkan gedung mesjidnya sendiri dapat menampung sekitar 2500 jemaah.

Selain menjadi tempat ibadah, mesjid ini juga menjadi Pusat Kebudayaan Islam Italia atau Centro Culturale Islamico d’Italia, pusat informasi dan berbagai kegiatan sosial budaya Islam dan umat Muslim, seperti pengajian, pernikahan Islam, layanan pemakaman, pameran, konferensi dan berbagai macam kegiatan Islami lainnya.

Proses pendirian Mesjid ini konon memakan waktu cukup lama, sekitar 40 tahun. Menurut informasi umum, awalnya diprakarsai oleh Pengeran Muhammad Hasan, seorang petinggi dari Afganistan yang lari bersama istrinya, Puteri Razia, pada tahun 1929 ke Italia, karena gejolak politik dalam negeri di Afganistan. Dinamika dalam negeri di Italia menyebabkan prosesnya jadi berlarut sampai tahun 70-an.

Tahun 1973, Raja Faisal dari Arab Saudi berkunjung ke kota Roma dan menyatakan komitmen untuk menanggung sebagian besar biaya pembangunan mesjid. Tahun 1974, Dewan Kota Roma kemudian menyumbangkan sebidang tanah untuk lokasi pendirian mesjid. Seiring dengan itu, 22 negara-negara muslim, termasuk Indonesia, dan berbagai komunitas muslim juga ikut memberikan kontribusi bagi pembiayaan pembangunan mesjid tersebut, sampai akhirnya pada tahun 1984 mulai dilakukan peletakan batu pertama.

Pertentangan di kalangan masyarakat setempat mengenai pembangunan masjid yang sempat terjadi waktu itu, menjadi reda setelah Paus Yohanes Paulus II  atau Pope John Paul II, menyatakan restunya di depan audiensi mingguannya dan mengatakan bahwa Mesjid Besar Roma merupakan simbol saling menghormati kebebasan beragama yang ada di pusat agama Katolik dan masyarakat Kristen. Mesjid Besar Roma akhirnya diresmikan dihadapan Presiden Italia, Oscar Luigi Scalfaro, pada 21 Juni 1995 dan dihadiri oleh Pangeran Salman Bin Abdul-Aziz Al Saud dari Arab Saudi.

Rancangan arsitektur dan interior mesjid dilakukan melalui proses seleksi kontes global yang ketat. Islamic Cultural Center of Italia sebagai penyelenggara kontes akhirnya mengesahkan rancangan arsitektur yang disajikan oleh Tim yang terdiri dari tiga orang, yaitu Sami Mousawi, seorang arsitek Irak yang bekerja di Inggris dan dua arsitek Italia, Paolo Portoghesi dan Vittorio Gigliotti. Hasilnya adalah sebuah arsitektur yang merupakan titik perpaduan, tidak hanya dari dua agama yang berbeda, tetapi juga dari dua budaya gaya arsitektur yang berbeda.

Interior mesjid dihiasi desain dengan pola geometris, dimana peran cahaya menciptakan suasana yang teduh. Pilar-pilar penyangganya bermotif palem telapak tangan, seolah cerminan hubungan antara Allah yang Esa dan para penyembah tunggal yang sangat individual dan pribadi. Lantainya dilapisi oleh karpet Persia yang tebal dan lembut dengan pola geometris berwarna dasar biru muda.

Tanggal 26 Juni 2020 lalu, mesjid ini baru membuka kembali penyelenggaraan sholat Jum’at, setelah sekitar 3 (tiga) bulan sejak 12 Maret 2020, menutup diri karena adanya kebijakan lockdown Pemerintah Italia dalam menghadapi merebaknya wabah Covid-19. Penyelenggaran sholat Jum’at di mesjid ini menerapkan protokoler kesehatan yang cukup ketat dan membatasi jumlah Jemaah sesuai dengan kebiasaan baru.

 

Harya K Shidarta

0 notes
8 views
bookmark icon

Write a comment...

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *