Opini

Jabungnomics

68


 

Jika seseorang bertanya pada anda, ada apa dengan Jabung tentu imajinasi anda akan menuntun pikiran pada sebuah kawasan yang dalam pikiran banyak orang merupakan kawasan “Seram bin menakutkan.” Hal ini sebagai akibat pemberitaan media masa yang kurang seimbang dan menjustifikasi seolah-olah semua warganya adalah pelaku kriminal. Menurut penurutan tokoh masyarakat setempat, Predikat “kampung begal” yang disematkan kepada warga Jabung sejak akhir 1970-an.

 

Pada awalnya, pembegalan dan perampokan di  kawasan Jabung ini mulai marak sejak 1977. Para perampok dan pembegal biasanya mengincar para saudagar di Pasar Negara Bathin. Dalam perkembangan selanjutnya, pola operasi dari pembegal (khususnya dengan sasaran kendaraan roda dua) sudah keluar kampung dan bahkan melakukan tindak kriminal di wilayah Jabodetabek. Aktivitas kriminal tersebut akhirnya menjadi viral di berbagai media (masa dan sosial). Akibat dari pemberitaan yang hanya menyoroti sisi negatif kawasan jabung tersebut, dampaknya dirasakan oleh warga setempat, misalnya para pedagang terutama untuk kebutuhan pokok enggan berjualan, pasar tradisional sepi, akses kredit perbankan sulit diperoleh, warganya relatif sulit mencari pekerjaan dan sebagainya.

Sudah berdekade stigma negatif tentang Jabung terus menggayuti alam pikiran kita semua, belum ada tanda-tanda upaya strategis dan taktis untuk memulihkan goodwill Jabung sebagai daerah yang aman dan nyaman untuk beraktivitas dan berusaha. Untuk membedah konstelasi fenomena Jabung, setidaknya ada 3 (tiga) pertanyaan penting yang perlu diajukan :

Pertama, wajarkah Jabung diberikan predikat sebagai “Kampung Begal” ?. Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, perlu ditelaah “sisi Positifnya” agar informasi yang sampai ke masyarakat –khususnya di luar Jabung– menjadi lebih seimbang dan proporsional. Berdasarkan penuturan tokoh-tokoh masyarakat Jabung, kawasan Jabung tidaklah seseram seperti apa yang dibayangkan oleh semua orang. Diperkirakan jumlah warga Jabung yang melakukan tindak kriminal tidak sampai 10 persennya. Artinya, sebagian besar warganya adalah juga orang baik-baik dan bahkan anak mudanya juga memilki prestasi, misalnya pernah menjuarai MTQ di tingkat Nasional. Dan jika mau jujur menelusuri jejak-jejak kriminilitas di berbagai daerah di Lampung, sebenarnya aktivitas kriminal tersebut bukan hanya tipikal sebagian kecil warga Jabung an sich. Sebut saja kawasan Padangratu di Lampung Tengah, kawasan Gunung Menanti di Tulang Bawang Barat, kawasan Surakarta di Lampung Utara, maupun kawasan Agung Batin di Mesuji. Hanya sebagian kecil, anak-anak muda Jabung yang memilih “jalan kesesatan”. Masih banyak anak muda Jabung yang menorehkan prestasi. Pada Pekan Olah Raga Dan Seni Antar Santri Diniyah (PORSADIN) Ke III tingkat Kabupaten Lampung Timur misalnya, kontingen pelajar Kecamatan Jabung telah menunjukan kemampuannya dengan berhasil menyabet 8 (delapan) gelar juara dari sebelas cabang yang dilombakan.

Kedua, faktor apa yang menjadi biang keladi dari munculnya predikat negatif tersebut ? Menurut H. Hasan Basri Gelar Raden Sampurna Jaya (Pengusaha Kuliner) dan Abdullah gelar Batin Sampurna Jaya (Guru / pematung) yang saya mintakan pendapatnya menyebutkan bahwa kemiskinan merupakan biang keladi munculnya pelaku kriminalitas dari Jabung. Patut di duga, akar kemiskinan warga jabung lebih disebabkan karena faktor ketimpangan dalam kepemilikan lahan dan relatif rendahnya pada akses sumber-sumber ekonomi, selain tentunya dari faktor pola konsumsi dan gaya hidup.

Kemiskinan dan kriminalitas saling terkait seperti lingkaran setan (vicious cyrcle). Sebenarnrya tindak kriminalitas bukanlah sebab, tetapi akibat dari kemiskinan. Pada akhirnya, kemungkinan tindak kriminalitas yang terjadi akan menjadi “pola budaya” yang dianggap lumrah oleh masyarakat setempat. Jika ditanyakan kepada anak-anak muda (baca : Pemain) tersebut, maka sebenarnya kuat keinginan untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan, ketimbang memilih jalan kriminal dengan risiko terberat, yaitu kematian.

Salah satu solusi atas kemiskinan yang mendera warga Jabung adalah dengan cara meningkatkan  kapabilitas sumber daya manusia di antaranya peningkatan pendidikan formal serta keahlian dan ketrampilan, menggerakkan urbanisasi, dan merangsang jiwa orang miskin untuk dapat inovatif, kreatif, responsif dan proaktif. Pendekatan ini menghendaki diberikannya pendidikan, baik formal maupun informal, agar mereka dapat memiliki kapabilitas atau keterampilan dan keahlian khusus serta berorganisasi untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi. Menurut Rajab (2006), pendekatan ini melihat penyebab kemiskinan dari cara berpikir dan bertindak orang miskin itu sendiri. Kurangnya kapabilitas dan budaya fatalistik adalah cerminan dari lemahnya penguasaan pada sumberdaya ekonomi, yang hal-hal itu kemudian berbalik melanggengkan kemiskinan.

Ketiga, apa yang mesti dilakukan agar ekonomi Jabung kembali bergairah dan mampu mendongkrak ekonomi lokalnya ? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan sebuah konsep pengembangan ekonomi Jabung dengan memperhatikan, potensi sumberdaya Alam, SDM dan Sumberdaya buatan dalam satu rumusan baru yang saya sebut dengan Jabungnomics. Jangan dibayangkan bahwa konsep Jabungnomics itu seperti sistem ekonomi makro yang rumit, ini hanyalah diksi yang saya pilih untuk memprovokasi para pemangku kepentingan agar memiliki perhatian dan komitmen lebih dalam mendorong pengembangan ekonomi jabung agar terlepas dari jeratan kemiskinan yang ada.

Jabung memiliki potensi sumberdaya yang memadai untuk lebih berkembang. Tanaman lada, kopi, cengkeh adalah 3 (tiga) jenis komoditas yang dapat menjadi komoditas ekonomi tinggi untuk dikembangkan. Tanah Jabung yang subur, akan memberikan peluang bagi pengembangan komoditas ekonomis lainnya seperti porang, pepaya dan lain-lain. Akan tetapi pengembangan komoditas tersebut selalu terkendala jatuhnya harga komoditas tersebut pada saat panen raya dan daya serap pasarnya (orientasi pasar lokal). Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, disinilah peran Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi dan kelembagaan tradisional serta di fasilitasi oleh warga Jabung perantauan untuk bersama-sama merumuskan konsep pengembangan industri kecil/rumahan dalam menciptakan nilai tambah komoditas menjadi produk melalui proses pengolahan (manufacturing).

Terkait dengan pengembangan di sektor pertanian, untuk menarik minat anak-anak muda Jabung, tentu pola usahataninya jangan dilakukan dengan pola-pola konvensional. Pola pertanian modern dengan mengadopsi teknik hidroponik tampaknya akan sesuai dengan ruh milenial anak-anak muda yang mungkin membayangkan jika menjadi petani harus bersusah payah seperti pada umumnya petani beraktivitas.

Di kawasan Jabung saat ini juga ada 2 (dua) perusahaan besar yaitu PT. Austasia Stockfeed (Peternakan Sapi) dan PT Waterindek Tirta Lestari (air minum Grand). Sebagai perusahaan, wajib hukumnya untuk menjalankan program tanggungjawab sosialnya (baca : CSR) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No 40 tahun 2007 Pasal 74 “menyatakan perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya dibidang dan/atau berkaitan dengan segala sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan”. Perseroan Terbatas tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana pasal 1 dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kita ketahui bersama, seringkali program CSR dari perusahaan tidak dilakukan community assestment terlebih dahulu, sehingganya program tersebut tidak menyentuh kebutuhan dasar dari warga setempat. Oleh karenanya diperlukan konsep CSR yang baru.

Kata kunci untuk membangun ekonomi Jabung adalah inovasi dan kreativitas. Ekonomi Jabung agak sulit untuk dikembangkan dengan cara-cara konvensional. Dibutuhkan terobosan pemikiran agar warga Jabung memiliki motivasi tinggi dalam membangun daerahnya dari ketertinggalan. Penciptaan nilai tambah melalui pengembangan industri kecil/rumahan dengan basis potensi lokal dan keterjaminan pasar merupakan gagasan yang perlu segera di implementasikan.

Bambang Suhada

0 notes
68 views
bookmark icon

Write a comment...

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *