Lingkungan

Prasasti Bungkuk, Jabung

• Bookmarks: 281


 

Tabik PuuunTabik Pun Ngalimpugho

Ki cawo salah susunMaklum kurang biaso

Tenang banyu mak limbak

Cappang dikanan kighi

Kattu wat salah cacak

Dang kuti suyo gacci

Lampung pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Śriwijaya. Hal ini ditandai oleh temuan Prasasti Palas Pasemah, Prasasti Bungkuk, dan Prasasti Batu Bedil yang merupakan prasasti dari masa Śriwijaya. Prasasti, terutama prasasti peringatan, pasti ditempatkan di areal permukiman. Selain lokasi prasasti, kawasan permukiman dapat dilacak melalui tinggalan arkeologis.

Melalui pendekatan arkeologi keruangan dapat diperoleh gambaran tentang pola permukiman di sepanjang aliran Way Sekampung. Pada dasarnya kawasan di sepanjang sungai dapat dibedakan menjadi kawasan hulu dan hilir. Kawasan hulu cenderung merupakan kawasan masyarakat penganut Hindu, sedangkan di hilir merupakan masyarakat penganut Buddha. Pada kedua permukiman kelompok masyarakat tersebut juga terdapat jejak religi budaya megalitik.

Oleh karena itu, masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan Budha membawa perubahan-perubahan diberbagai aspek kehidupan, baik social, ekonomi, birokrasi, dan budaya termasuk pada bidang bahasa dan aksara. Salah satu aspek yang menojol dari masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan Budha di Nusantra adalah di bidang politik dengan munculnya sistem kerajaan. Kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara itu banyak meniggalkan bukti bersejarah seperti candi, arca dan prasasti.

Di Sumatra pada abad ke-7 Masehi berdiri sebuah kerajaan yang bernama Sriwijaya, kerajaan ini merupakan kerajaan besar yang menguasai jalur perdagangan dan  pelayaran yang berada di selat Malaka, hal ini dapat diketahui berdasarkan dari berita Cina dan Arab. Pada saat itu Sriwijaya mengeluarkan peraturan bahwa kapal-kapal asing yang melakukan aktivitas perdagangan di wilayah perairannya harus menggunakan kapal Sriwijaya. Dengan demikian, kapal-kapal niaga yang datang dari Cina, India, Persia dan Arab harus memindahkan barang dagangannya di pelabuahan Sriwijaya ke kapal milik Sriwijaya (Bambang Budi Utomo, 2016, 16-17).

Kerajaan Sriwijaya sendiri banyak meninggalkan bukti tertulis berupa prasasti, kebanyakan isi dari prasasti ini berupa kutukan atau sapatha bagi wilayah yang telah ditaklukkannya. Hal ini sangat berbeda dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa karena sebagian besar isi dari  prasasti-prasasti yang ada disana berupa puji-pujian terhadap dewa-dewa dan pelaksaan keputusan raja. Namun mengingat kerajaan Sriwijaya hidup dari sector perdagangan, Hal tersebut dianggap wajar karena sektor perdagangan membutuhkan pengawasan yang ekstra dari penguasa untuk meminimalisir pemberontakan.

Pada masa klasik, saat pengaruh Hindu-Buddha sangat kuat, di Lampung tidak ada bukti adanya suatu pusat kerajaan (kingdom). Beberapa prasasti yang ditemukan di Lampung kebanyakan merupakan prasasti yang dikeluarkan oleh Śriwijaya. Dengan asumsi bahwa prasasti ditempatkan pada permukiman masyarakat, maka pada masa Śriwijaya berkuasa di Lampung terdapat tiga lokasi permukiman yang berada di tepi aliran Way Sekampung.

Permukiman di sekitar Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Bungkuk berada di wilayah hilir, serta permukiman di sekitar Prasasti Batu Bedil berada di wilayah hulu. Secara geografis kedua kawasan tersebut mempunyai bentang alam yang berbeda. Kawasan hulu bergunung-gunung dan bergelombang, sedangkan kawasan hilir berupa pedataran berawa-rawa. Pemilihan lokasi dengan bentang lahan tertentu untuk permukiman tentunnya bukan tanpa alasan.

Prasasti sendiri merupakan dokumen tertulis yang terbuat dari bahan dasar yang keras dan tahan lama. Di dalam isi dari prasasti terdapat tujuh unsur penting yaitu keputusan raja, sebab akibat, rincian prasasti, sasi (nama raja), sapatha (kutukan), citraleka (siapa yang menulis prasasti tersebut), dan pertanggalan. Tulisan ini akan mencoba mengkaji tujuh unsur  prasasti yang terdapat pada prasasti bungkuk (Jabung).

Prasasti Bungkuk (Jabung) ditemukan tahun 1985. Di desa Bungkuk saat itu masih kecamatan Jabung, namun saat ini masuk wilayah Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur. Mirip dengan Prasasti Palas Pasemah, kedua prasasti ini diperkirakan berasal dari kurun waktu yang hampir sama. Aksara Pallawa pada Prasasti Bungkuk sudah aus dan secara garis besar berisi mengenai sumpah dan kutukan bagi pihak yang melakukan kejahatan pada Sriwijaya (Utomo, 2010: 68).

Prasasti Bungkuk ditemukan di tepi Way Sekampung. Sekarang tersimpan di Rumah Informasi Taman Purbakala Pugung Raharjo Kecamatan Sekampung Udik. Kondisi huruf-huruf pada prasasti sudah aus sehingga sulit dibaca tetapi diketahui bahwa aksara yang dipakai untuk menuliskannya adalah Pallawa terdiri 13 baris berbahasa Melayu Kuna (Utomo, 2007: 9). Bagian yang terbaca memuat kutukan sebagaimana prasasti Śriwijaya yang lain. Prasasti ini menyebut datu Śriwijaya. Dengan adanya prasasti ini menunjukkan bahwa jangkauan wilayah Śriwijaya meliputi Way Sekampung (Hardiati, 2010: 79 – 80).

Dari baris-baris yang dapat dibaca isinya berupa kutukan yang sama dengan yang terdapat pada prasasti Palas Pasemah. Prasasti Karang Brahi dan Prasasti Kota Kapur merupakan Prasasti Sriwijaya dari akhir abad ke 7. Dikarenakan di dalam prasasti ini tidak termuat penulisan  pertanggalan. Sapatha sendiri dapat berarti kutukan atau ancaman yang dikeluarkan oleh  penguasa dengan tujuan mengontrol dan mengendalikan penduduk wilayah taklukannya. Ancaman yang di maksud bukanlah ancaman yang berupa hukuman fisik, namun ancaman yang bersifat superhuman beings.

Prasasti Bungkuk merupakan salah satu prasasti sapatha yang dikeluarkan oleh kerajaan Sriwijya, prasasti-prasasti sapatha tersebut  diletakkan pada lokasi-lokasi yang strategis untuk mendukung pertahanan politik dan ekonomi Sriwijaya. Tersebarnya lokasi  peletakkan prasasti ini juga dapat dihubungkan dengan bentuk pemerintahan Sriwijaya yang  berupa Thalasokrasi atau kemaharajaan laut yang kekuatan ekonomi utamanya adalah  perdagangan.

Sebagai sebuah negeri yang wilayah lautnya lebih luas daripada wilayah  daratnya, tentunya Sriwijaya memerlukan ‘objek’ untuk mempertahankan wilayahnya (Izza,  2015: 36-45). Mengenai pemilihan lokasi penempatan Prasasti Bungkuk yang berada di Kabupaten Lampung Timur, Kecamatan Marga Sekampung, Desa Bungkuk, dapat dikaitkan dengan lokasinya yang dekat dengan selat antara Sumatra dan Pulau Jawa.

Wilayah ini perlu dikontrol karena merupakan wilayah penting bagi pertahanan ekonomi dan politik Sriwijaya. pemilihan lokasi prasasti-prasasti sapatha Sriwijaya juga dilatar belakangi oleh keterjangkauan kontrol. Maksudnya, prasasti harus diletakkan pada tempat yang strategis agar semua pihak yang berpikir untuk melakukan kejahatan atau berkhianat pada Sriwijaya dapat mengurungkan niatnya karena kesadaran sedang diawasi oleh sosok yang bersifat  superhuman beings atau dewata dengan ancaman kutukan yang akan menimpannya.

Tabik Pun

Abdullah

2 recommended
0 notes
81 views
bookmark icon

Write a comment...

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *